Dahlan Iskan, Pieter Merkus dan Koresponden De Locomotief

Artikel berjudul “Kuburan Super Aneh di Makam Belanda Peneleh” yang saya tulis di Begandring.com mendapat tanggapan banyak kalangan. Salah satunya Dahlan Iskan. Mantan Menneg BUMN dan bos Jawa Pos Group itu sangat tertarik dengan kisah Gubernur Jendral Pieter Merkus.

Dahlan Iskan yang karib dipanggil Abah itu, berkirim WA ke saya, Rabu (22/2/23) pagi.

“Bagus sekali tulisan Anda soal makam Gubernur Jendral ini. Saya baru tahu. Kalau saja bisa dapat dokumen mengapa MENINGGAL DI Surabaya… “ begitu tulis Dahlan dalam pesan WA.

“Nanti saya tulis Bah. Makam ini menjadi perpustakaan hidup. Banyak cerita dari orang orang penting di makam, yang secara arsitektur indah dipandang mata dan penting untuk dikaji oleh mahasiswa sejarah dan sipil terkait bangunan bangunan makam,” jawab saya.

Dahlan Iskan memang sering membaca artikel-artikel di Begandring.com. Dia memang penyuka sejarah dan budaya. Bukan hanya sejarah dan budaya Indonesia, tapi juga mancanegara.

Bahkan, bukan kali ini saja Dahlan memberi tanggapan. Sebelumnya, ketika Begandring.com menayangkan tulisan Haryati, istri keenam Soekarno, Dahlan juga meresponsnya. Bahkan dia menulis kisah itu di Harian Disway, media miliknya.

Dahlan Iskan, Pieter Merkus dan Koresponden De Locomotief
Dahlan Iskan. foto: disway

Bagi saya, artikel ini cukup menantang. Tentang riwayat kematian Gubernur Jendral Pieter Merkus yang meninggal di Surabaya pada 2 Agustus 1844.

Ia adalah Gubernur Jendral Hindia Belanda yang ditunjuk menjabat mulai 1841 sampai 1844. Jabatan itu terlalu singkat untuk orang baik seperti Pieter Merkus. Ia menghembuskan napas terakhir di Huiz van Simpang (sekarang gedung Grahadi).

Saya tertantang untuk menggali riwayat Gubernur Jendral Pieter Merkus khususnya di seputar kematiannya sesuai dengan harapan Dahlan Iskan. Tapi dari mana sumber itu? Ini tidak mudah.

Maka seperti biasa, yang dilakukan oleh The Begandring Institute, adalah browsing dari berbagai laman. Akhirnya ditemukan artikel penting pada tengah malam.

Judul artikelnya, “De overbrenging van het gebeenten van den Gouverneur-Generaal Mr. Pieter Merkus,” yang artinya, “Pemindahan Tulang dari Gubernur Jenderal Bpk. Pieter Merkus.”

Ketika saya lihat jam, jarum panjang pada jam dinding menunjukkan pukul 02.00 WIB (23/02/23). Magic number saya pikir. Nomor 02230223 adalah nomor bagus. 02 menunjukkan waktu. 23 menunjukkan tanggal. 02 menunjuk pada bulan Februari dan 23 adalah tahun 2023.

Artikel yang saya temukan itu ditulis oleh koresponden harian De Locomotief (Semarang) yang bertugas di Surabaya. Beritanya terbit pada Senin, 8 Desember 1900.

Baca Juga  Perdalam Bahasa dan Budaya, Mahasiswa Jepang Blusukan ke Peneleh

Isi Berita
(Dari koresponden kami di Surabaya, 1900)

Setelah lebih dari setengah abad yang lalu (15 Agustus 1844), sebuah upacara yang paling mengesankan terjadi di Surabaya. Pieter Merkus, diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 47. Ia memerintah antara tahun 1841—1844. Pada tanggal 13 Februari 1843, ia mendapat tugas ke wilayah Ujung Timur Jawa (Oosthoek) dan dalam tugas dinasnya, ia meninggal pada 2 Agustus 1844.

Pieter Merkus tiba di Surabaya sebetulnya sudah dalam keadaan sangat sakit. Awalnya ia berkunjung ke bagian timur Jawa, Banjoewangi dan selanjutnya ke Surabaya. Di Surabaya ia tinggal di Huiz van Simpang (Grahadi) dan meninggal disana pada 2 Agustus 1844. Kematiannya disayangkan oleh banyak orang karena Pieter Merkus dikenal sebagai seorang Gubernur Jendral yang paling manusiawi dan saleh.

Pemakamannya dilakukan tiga belas hari kemudian. Ketika itu, dalam waktu yang singkat tidak mungkin melakukan persiapan persiapan pemakaman lebih cepat karena harus menunggu peti mati dengan design khusus agar pantas untuk seorang gubernur jendral. Juga untuk proses pembalseman sebelum dimasukkan ke dalam peti mati yang terbuat dari besi.

Peri mati ini dibuat oleh satu satunya bengkel industri besi di Surabaya, milik Tuan F. Bayer. Sebetulnya pada saat itu juga ada industri besi lain tapi lebih fokus ke pembuatan artileri. Yaitu Artileri Construktie Winkle (ACW). Pabrik milik Tuan Bayer, De Volharding, termasuk pabrik yang menyediakan barang dan onderdil untuk permesinan seperti untuk pabrik gula dan perbentengan. Kala itu di pertengahan abad 19.

Pabrik ini banyak menyerap tenaga kerja lokal. Mereka pun senang sehingg pabrik ini pernah mendapat penghargaan dari pemerintah. Dianugerahi Order of the Netherlands Lion oleh Koning Willem II, sebuah penghargaan yang memang pantas didapatkan.

Dahlan Iskan, Pieter Merkus dan Koresponden De Locomotief

 

Dimakamkan di Gereja

Dalam prosesi pemakaman, banyak orang menyaksikan kemegahan. Banyak orang yang datang melihat prosesi ini dengan berdiri membentuk pagar orang di sepanjang jalan yang dilalui mulai dari Huiz van Simpang (Grahadi) hingga ke pemakaman di kompleks Benteng Prins Hendrik (kini di sekitar jalan Benteng Surabaya).

Warga Surabaya yang datang memberi penghormatan berpakaian kebesarannya dan kedaerahannya sebagai orang Surabaya (pribumi). Mereka berjalan mulai dari Simpang ke alun alun kecil di depan Benteng Prins Hendrik. Di sana ada gereja di mana Pieter Merkus akan dikuburkan.

Pieter Merkus dimakamkan di gereja karena lahan pemakaman yang layak sudah tidak ada. Tidak ada lagi ruang di pemakaman Eropa di Krembangan. Pada tahun itu 1844, pemakaman Krembangan sudah tidak bisa menampung orang mati. Tidak mungkin orang setingkat Gubernur Jendral disisipkan di pemakaman umum saat itu. Saat itu pemakaman Peneleh belum ada.

Baca Juga  Jalan Bubutan Saksi Bisu Sejarah Pergerakan Nasional di Surabaya

Pagi-pagi sekali prosesi pemakaman berangkat dan berjalan lamban tapi megah sekali. Seluruh kekuatan garnisun, milisi angkatan laut berjalan mengiringi. Spanduk spanduk bela sungkawa menghiasi jalanan. Warnanya hitam simbol rasa berkabung. Dalam perjalanan diiringi oleh alunan musik duka yang dalam jarak beberapa meter di dentumkan meriam meriam hingga sampai gereja di depan Benteng.

Sebelum jasad sang Gubernur Jenderal dikebumikan, bunga bunga ditaburkan ke dalam tanah yang menganga. Baru setelah jasad dikebumikan, karangan bunga menutupi kuburan. Di sekeliling kuburan dipasang pagar besi beraksen gotic. Di sekitar pemakaman juga sudah ada dua nisan dan monumen dari kuburan Mayor Insinyur P.P.C. Ondaatje dan van den letnan laut kelas satu L.F. Van Hoogenhuyze. Yang terakhir ini tewas dalam ekspedisi Bali.

Disanalah di komplek Benteng Prins Hendrik, Gubernur Jendral Pieter Merkus dimakamkan. Merkus meninggal di usia 56 tahun.

Dahlan Iskan, Pieter Merkus dan Koresponden De Locomotief
foto: begandring

 

Bongkar Kuburan 

Di dunia ini memang tidak ada yang langgeng. Makam tempat beristirahat terakhir pun juga tidak langgeng. Pada masanya makam Pieter Merkus di Benteng ini juga harus digali kembali, tulang tulangnya dikumpulkan dan dipindahkan ke Peneleh, setelah kompleks makam Peneleh dibuka pada 1 Desember 1847.

Pada saat yang bersamaan, gereja dan Benteng harus dibongkar demi perkembangan Surabaya. Benteng, gereja dan alun alun dibongkar untuk pembangunan jalur kereta Gubeng-Kalimas Timur. Gubernur Jendral Rochussen bertanggung jawab atas pembongkaran kuburan demi pembangunan.

(Tambahan dari penulis: Gubernur Jendral J.J. Rochussen adalah seorang Gubernur Jendral yang membangun masjid Kemayoran pada kurun waktu 1844-1848. Ia atas nama pemerintah bersama Residen Surabaya Daniel. Francois Willem Petermaat dan Bupati Surabaya Kromodjoyodirono).

Ketiga kuburan itu: Pieter Merkus, Mayor Insinyur P.P.C. Ondaatje dan van den letnan di laut kelas satu L.F. Van Hoogenhuyze dibongkar dan dipindahkan.

Pembongkaran makam Pieter Merkus cukup sulit. Karena peti mati telah dikemas begitu rapat. Didapati kotak kayu yang di dalamnya dilapisi timah juga sudah lapuk. Juga terdapat retakan pada lempeng timahnya. Tentu saja tidak mungkin memindahkan barang-barang dalam keadaan itu, karena estetika dan kesopanan masih dibutuhkan untuk menghormati Gubernur Jendral. Jika dibuat kotak mati yang baru maka butuh waktu dan ukuran peti mati yang baru dan harus berdimensi lebih besar.

Baca Juga  Ini Cerita Asli Di Balik Pembuatan Film Koesno yang Masuk Nominasi Terbaik FFI 2022

Lalu ada sesuatu yang lain. Para petugas pembongkar makam tidak ada yang ragu dengan dua monumen (kuburan) lainnya yang sudah ada di sana jauh sebelum Pieter Merkus dikubur.

Bagaimanapun dua set tulang (Pieter Merkus dan Van Hoogenhuyze) diangkat dan dipindahkan ke makam Peneleh. Sementata tulang belulang Ondaatje dipindahkan ke Krembangan.

Pieter Merkus dan Van Hoogenhuyz diberangkatkan ke Peneleh pada 1 Desember 1847 setelah peresmian pembukaan Makam Peneleh. Gubernur Jendral Pieter Merkus menjadi orang pertama menempati Makam Belanda Peneleh.

(Catatan penulis: lokasi makam Pieter Merkus istimewa, persis di depan pintu besi komplek makam yang menghadap jalan Kerkkoff, sekarang jalan Makam Peneleh)

Dahlan Iskan, Pieter Merkus dan Koresponden De Locomotief

 

Iring-Iringan Pemindahan

Meski pun sudah berupa tulang belulang, prosesi pemindahannya diiringi dengan prosesi besar. Hadir dalam prosesi itu di antaranya pejabat Residen, Kolonel, Komandan Divisi dan Asisten Residen, Kepala Dewan Hindia Belanda, Staur, dua mobil jenazah. Satu mobil membawa peti mati Jenderal Merkus, dan yang kedua membawa perwira angkatan laut Van Hoogenhuyze.

Iring-iringan ini dimulai dari Benteng yang melewati permukiman militer di Kampenmenstraat (sekarang KH Mas Mansyur), Pabean, Kembang Dje-poon, Jembatan Merah (menyeberangi Kalimas), lewat depan Kantor Residen, Willemskade (jalan Jembatan Merah), Gerbang Kota (pertigaan jalan Centrawasih dan jalan Jembatan Merah), Sociéteit straat (Jalan Veteran), Taman Kota (Gedung BI), Pasar Besar, Jembatan Jagalan (menyeberang sungai) dan seterusnya sampai pemakaman Penele.

Sekitar pukul empat sore iring-iringan tulang sampai di Peneleh. Meski hanya tulang belulang yang diiring, tapi tidak menghilangkan rasa hormat kepada mendiang Gubernur Jendral Pieter Merkus. Di sinilah kuburan baru Pieter Merkus berada. Kuburannya dikelilingi pagar besi bermotif gotic, yang pernah dipakai di pemakaman gereja di Benteng Prins Hendrik. Nisannya berupa plat besi berinskripsi yang berbunyi:

Paduka Mr. Pieter Merkus, komandan orde Nederlandsche Leeuw, Ksatria Legiun Kehormatan Perancis, Gubernur Jendral Hindia Belanda, Panglima Angkatan Darat dan Angkatan Laut di sebelah timur Tanjung Harapan dan seterusnya, wafat di rumah Simpang tanggal 2 Agustus 1844″

Itulah kisah yang ditulis oleh koresponden De Locomotief (Semarang) pada 8 Desember 1900 yang kemudian disesuaikan oleh penulis (Begandring Soerabaia).

Data ini diperoleh oleh penulis tepat pukul 02.00 pada 23 Februari 2023 dengan numeratik hebat 02230223. (nanang purwono)

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
djoko tapfer BX
1 year ago

Makasih Sudah berbagi informasinya mas

Purwono
1 year ago

Semoga bermanfaat dan nambah wawasan.

2
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x