Sejarah Tidak Pernah Final, tapi Juga Tidak Bengkok

Pada suatu kesempatan, saya bertemu para ahli dalam bidang sejarah dan peradaban budaya di satu forum penulisan Ensiklopedia Kearifan Lokal Surabaya. Di sana ada sejarawan, epigrafer, budayawan, anthropolog, arkeolog, dan pegiat sejarah budaya.

Di antara tema tema yang dibahas dalam forum itu adalah asal usul Surabaya dan Sumur Jobong (sumur kuno yang ditemukan di Surabaya).

Karena bahasan ini untuk sebuah ensiklopedia, tentu hasilnya adalah karya yang mampu memberikan referensi atau ringkasan yang menyediakan rangkuman informasi dari semua cabang pengetahuan atau dari bidang tertentu.

Penulisan ensiklopedia yang dikerjakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga ini, adalah tentang Sejarah dan Kearifan Lokal Surabaya.

Informasi yang disajikan tentu diharapkan bisa menyajikan jawaban yang masuk akal, khususnya terhadap materi-materi sejarah. Sejarah sendiri adalah fakta. Maka sejarah harus mampu menyajikan fakta-fakta sejarah.

Fakta sejarah merupakan keterangan tentang terjadinya peristiwa yang didasarkan pada bukti-bukti yang ditinggalkan sesudah mengalami pengujian secara cermat.

Literasi Brainly.co.id mendefinisikan bukti Sejarah merupakan suatu hal yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa, yang mengandung unsur 5W dan 1 H di dalam suatu peristiwa sejarah. Berbagai elemen 5W 1H tersebut adalah What, Where, When, Who, Why dan How.

Contohnya, peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI dapat dilihat dari bukti sejarah di dalam bukti Naskah Proklamasi Republik Indonesia pada tahun 1945.

Ketika dalam bahasan asal usul Surabaya dan Sumur Jobong, maka informasi yang disajikan harus tuntas. Informasi apa yang dapat disajikan melalui unsur 5W+ 1H terkait dengan tema asal usul Surabaya?

Tentu akan muncul harapan dari asal usul Surabaya. Misalnya, dimana letak asal usul Surabaya? Apa yang menjadikan Surabaya? Kapan asal usul Surabaya?

Baca Juga  Bulan Bung Karno: Warisi Apinya, Jangan Abunya

Termasuk akan muncul pertanyaan apa itu Sumur Jobong? Mengapa ada Sumur Jobong di Pandean?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk memberikan jawaban yang tuntas atas materi yang dibahas. Apalagi ini adalah ensiklopedia. Artikel ensiklopedia umumnya lebih panjang dan lebih rinci daripada kamus yang paling banyak sekali pun.

Sumur Jobong (1430) ditemukan di Pandean yang berada di tepi sungai.

 

Secara umum, ensiklopedia tidak seperti entri kamus yang berfokus pada informasi linguistik tentang kata-kata, seperti makna, pengucapan, penggunaan, dan bentuk gramatikal. Artikel ensiklopedia berfokus pada informasi faktual mengenai subjek yang disebutkan dalam judul artikel.

Karenanya ketika artikel Asal Usul Surabaya dan Sumur Jobong menjadi judul artikel di Ensiklopedia Sejarah dan Kearifan Lokal, maka perlu ada penjelasan dan informasi yang tuntas.

 

Mengoreksi Sejarah

Dua tema mengenai Asal Usul Surabaya dan Sumur Jobong menarik perhatian sejarawan Prof Purnawan Basundoro. Menurutnya, Sumur Jobong yang diketemukan pada akhir Oktober 2018 adalah fakta tentang adanya peradaban kuno di Surabaya.

Penemuan itu tidak hanya bersifat historis, tapi juga arkeologis dan anthropologis. Jika ada penelitian dan kajian lebih lanjut tentang sumur jobong, maka sangat dimungkinkan hasilnya akan menjawab artikel Asal Usul Surabaya.

“Selama ini kisah tentang asal usul Surabaya masih debatable (menjadi perdebatan). Kalau Sumur Jobong sebagai temuan baru bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan perdebatan, maka ini perlu upaya dan tindakan lebih lanjut di luar pembahasan ensiklopedia ini,” kata Purnawan yang juga pengarah dalam penulisan ensiklopedia Sejarah dan Kearifan Lokal Surabaya.

Pria yang menjabat Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur dan juga sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya ini mengatakan, setiap penemuan data baru itu akan melengkapi yang lama atau bahkan bisa mengubah sama sekali yang lama yang selama ini telah diyakini.

Baca Juga  Panggung Terpanjang dalam Pertunjukan Perobekan Bendera

“Sejarah sejatinya bukan sesuatu barang yang sudah final, tapi juga bukan barang yang bengkok,” tambah Purnawan.

Sejarah adalah fakta dan fakta sejarah adalah keterangan tentang terjadinya peristiwa yang didasarkan pada bukti-bukti yang ditinggalkan sesudah mengalami pengujian secara cermat.

Sumur Jobong adalah bukti sejarah yang telah diuji dan terungkap informasinya bahwa benda arkeogi ini sudah ada pada 1430. Tidak diketahui mulai kapan sumur Jobong di Pandean ini ada.

Delta Bayu MA. anthropolog dan paleothropolog Unair yang meneliti temuan Sumur Jobong dan fragmentasi arkeologis di dan di sekitar sumur, menuturkan bawah Sumur Jobong ini menunjukkan pernah adanya kehidupan dan peradaban kuno (abad 15) di Pandean Peneleh.

“Tidak cuma sumur kuno, di dalam dan di sekitar sumur juga ditemukan fragmentasi tulang tulang manusia. Sesuai fungsi peradaban bahwa sumur adalah tempat sumber air untuk kebutuhan manusia. Namun dengan diketemukan tulang tulang manusia, diduga sumur Jobong di Pandean ini juga menjadi sarana ritual kematian”, jelas Bayu dalam forum diskusi penulisan ensiklopedia.

Prasasti Canggu (1358) menuliskan nama Curabhaya (Surabaya) berada di hilir sungai.

 

Purnawan memandang temuan Sumur Jobong ini penting sekali untuk melengkapi sejarah Surabaya dan bahkan mengoreksi sejarah Surabaya yang selama ini sudah diyakini kebenarannya.

“Jika temuan baru Sumur Jobong ini (2018) mampu menyajikan fakta dan  bukti sejarah, maka ini bisa menggugurkan teori dan hipotesa asal usul Surabaya yang sudah diyakini selama ini,” terang Basundoro.

Berdasarkan buku Hari Jadi Kota Surabaya (1975) bahwa Surabaya bermula dari sebuah desa yang bernama Hujunggaluh. Pernyataan ini sebagaimana tertulis dalam laporan ilmiah tim peneliti Hari Jadi Kota Surabaya.

Baca Juga  Kembang Jepun, Nama Jalan dari Sebutan Pelacur Jepang

Bahwa Kampung Galuhan dan Taman Galuhan di Kelurahan Bubutan dianggap sebagai kawasan yang namanya merupakan hasil perubahan dari nama Hujunggaluh. Padahal nama Galuhan itu adalah nama baru atas perubahan nama-nama yang berbau kolonial pada tahun 1950.

Perubahan nama dari nama nama kolonial ke nama nama lokal ini sebagaimana diberitakan oleh surat kabar Nieuwe Courant yang terbit pada 28 Maret 1950 dengan judul Wijziging van StraatnamenNama lama jalan Galuhan adalah Jan van der Heidenstraat. Sedangkan nama lama Taman Galuhan adalah Lorenplein.

Selain itu, berdasarkan bukti prasasti Kamalagyan (1037 M) bahwa Hujunggaluh berada di hulu sungai. Sementara Surabaya atau Hujunggaluh yang dipercaya di Surabaya, berada di hilir sungai.

Dengan data dari dua temuan (data koran Nieuwe Courant dan prasasti Kamalagyan) maka Hujunggaluh yang selama ini diyakini berada di Surabaya bisa dianggap gugur.

Temuan Sumur Jobong (1430) di Pandean pada 2018 ini menguatkan fakta dan bukti prasasti Canggu (1358) yang ditemukan sebelumnya di masa kolonial. Prasasti Canggu menjelaskan Curabhaya (Surabaya) berada di hilir sungai. Sedangkan sumur Jobong sebagai bukti peradaban manusia (tempat mencari air dan benda ritual kematian) menunjukkan dan menguatkan Curabhaya sebagai desa kecil di tepian sungai (naditira pradeca).

Dua fakta dan bukti sejarah ini (prasasti Canggu dan sumur Jobong) saling melengkapi dan menguatkan akan adanya peradaban manusia di kawasan dekat sungai (nasitira pradeca). Sedangkan jika selama ini Hujunggaluh dianggap sebagai awal mula Surabaya, maka data sejarah yang disajikan sesungguhnya telah terbantahkan (gugur) oleh fakta dan data yang baru.

“Jadi temuan baru, yang disertai bukti dan melengkapi data sebelumnya, bisa menggugurkan sejarah yang sudah jamak kepercaya publik, tegas Purnawan. (*)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *