Abdi Dalem Kedhaton Ngayogyakarta Kunjungi Sumur Jobong.

Begandring.com: Surabaya (1/9/23) Ita Surojoyo, seorang penulis dari Begandring Soerabaia, pada suatu hari membersamai seorang Abdi Dalem Kadhaton Ngayogyakarta Hadiningrat ke situs arkeologi Sumur Jobong di Pandean, Surabaya. Sebagai seorang penulis yang cinta pada budaya dan leluhur Jawa, Ita memiliki kakhasan dalam berliterasi. Yaitu menyertakan bebarapa aksara Jawa untuk kata kata dan frase tertentu sehingga pembaca bisa belajar aksara Jawa. Berikut catatan Ita Surojoyo.

Apa yang terlintas di pikiran Anda jika mendengar nama kota ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya?

Sebagian orang akan menjawab “ikan hiu dan buaya” dan sebagian yang lain mungkin akan mengatakan “mall”. Dua jawaban tersebut adalah respons yang sering bahkan paling banyak saya dengar dari orang-orang yang pernah saya tanyai.

Mengapa demikian? Karena ikon ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya memang ikan hiu dan buaya. Dan juga wajar jika ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya dianggap identik dengan mall karena dua mall terbesar di Indonesia tidak terletak di ibukota melainkan di ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya. Menariknya, karena berukuran super besar, pengunjung mall sering kali tersesat dan lupa di mana letak pintu masuk atau keluar mall.

Namun, hari ini saya tidak akan berkunjung ke salah satu mall megah tersebut melainkan ke salah satu situs tertua di ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya. Penasaran?

Nah, kali ini saya berkesempatan mengantar tamu dari ꧌ꦏꦝꦠꦺꦴꦤ꧀ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ ꦲꦢꦶꦤꦶꦁꦫꦠ꧀꧍ Kadhaton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang hendak berkunjung ke sumur Jobong yang secara administasi terletak di Peneleh, kecamatan Genteng ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya Pusat. Sumur kuno yang diduga sudah ada sejak era ꧌ꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀꧍ Majapahit ini tepatnya berada di tengah gang perkampungan di RT 1, RW 13, Pandean Gang I.

Baca Juga  Penyusunan Kurikulum Ekskul Sekolah Artefak SDN Sulung, Surabaya
ꦥꦿꦱꦱ꧀ꦠꦶꦥꦼꦤꦼꦠꦥꦤ꧀ꦱꦸꦩꦸꦂꦗꦺꦴꦧꦺꦴꦁ
ꦱꦼꦧꦒꦻꦧꦔꦸꦤꦤ꧀ꦕꦒꦂꦧꦸꦝꦪ
Prasasti penetapan sumur Jobong sebagai bangunan cagar budaya. Foto: Ki AJ/Begandring.

Perjalanan kali ini, saya ditemani juru pelihara Sumur Jobong, Mas Agus Santoso. Dari keterangan yang saya dapat dari beliau, penemuan Sumur Jobong berawal dari proses perbaikan gorong gorong di area Pandean pada masa Walikota Risma Triharini tahun 2018. Got yang pada masa Hindia Belanda dibangun berukuran kecil, yaitu tinggi 40cm dan lebar 60cm tersebut tidak mampu menampung air sehingga sisi sebelah timur Pandean selalu tergenang air terutama di depan balai RW.

Renovasi gorong-gorong dimulai tanggal 1 Oktober 2018 dan pada Rabu Wage tanggal 31 Oktober pukul 18.21 WIB pekerja yang menggali di kedalaman sekitar 70-80 cm menemukan tulang belulang dan pada kedalaman 1 meter menemukan potongan bata merah dengan ketebalan kurang lebih 8cm dan lebar 20 cm.

Uniknya, bata yang ditemukan utuh itu panjangnya sekitar 35cm. Ukuran bata ini tidak lazim karena berbeda dengan jenis bata merah yang ada sekarang ini. Lalu Mas Agus, yang pada waktu itu menjadi Humas RW 13 Pandean beserta mandor yang pada petang itu berada di lokasi penggalian, meminta Pak Gandi, salah satu pekerja yang sekrupnya membentur potongan bata kuno, menghentikan pekerjaannya karena beliau merasa ada sesuatu yang penting atau ada ꧌ꦠꦼꦠꦼꦔꦼꦂ꧍ tetenger di area tersebut.

Pada hari berikutnya Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan datang dan mengecek temuan Sumur Jobng dan memastikan bahwa Sumur Jobong memiliki kemiripan dengan sumur kuno di trowulan.

Selain itu ditemukan juga tulang-belulang di sekitar sumur yang kemudian diuji karbon di Australian National University, Canberra. Fragmen tulang yang diuji tersebut menunjukkan hasil bahwa mereka diperkiraan hidup pada tahun 1430-1608 Masehi.

Baca Juga  Kunjungi Lodji Besar, Kepala BPK XI Jatim Ajak Begandring Kolaborasi

Lebih jauh lagi, Mas Agus menuturkan bahwa telah dilakukan uji tes DNA dari fragmen yang ditemukan, yang hasilnya menunjukkan adanya kemiripan terhadap sample yang diambil dari warga lokal di sekitar Sumur Jobong.

 

ꦥꦼꦤꦸꦭꦶꦱ꧀ꦧꦼꦂꦱꦩꦗꦸꦫꦸꦥꦼꦭꦶꦲꦫ
ꦱꦸꦩꦸꦂꦗꦺꦴꦧꦺꦴꦁ/
Penulis bersama juru pelihara sumur Jobong. Foto: is/Begandring.

Abdi dalem yang saya antar ke destinasi unik ini kemudian meminta ijin Mas Agus untuk turun melihat langsung sumur yang secara alami terletak di bawah jalan kampung seperti bunker. Manhole yang digunakan sebagai penutup sumur sangat berat dan berukiran khas Surabaya. Setelah turun melalui pintu kecil dengan tangga besi, saya melihat dari atas sang abdi dalem menyalakan dupa dan berdoa.

 

ꦲꦧ꧀ꦢꦶꦢꦊꦩ꧀ꦱꦼꦝꦁꦧꦼꦂꦝꦺꦴꦄ
ꦝꦶꦄꦫꦺꦪꦱꦸꦩꦸꦂꦗꦺꦴꦧꦺꦴꦁ
Abdi Dalem sedang berdoa di area sumur jobong. Foto: ita/Begandring.

Sebagai abdi dalam keraton, Kangmas Lurah Setya Prasaja sudah terbiasa dengan ritual leluhur Jawa yang berhubungan dengan dupa. Saat dupa menyala, aroma wangi menebar ke udara dan saya yang berada di dekat mulut sumur ikut menikmati wangi dan suasana khusuk ketika doa dimantrakan menuju langit, Tuhan Yang Esa. Ketika saya bertanya apa yang beliau mantrakan ke langit, beliau menjawab:

꧋ꦱꦼꦩꦺꦴꦒꦱꦼꦩꦸꦄꦩꦑ꧀ꦭꦸꦏ꧀ꦧꦼꦂꦧꦲꦒꦾ, ꦩꦸꦒꦶꦫꦲꦪꦸꦱꦒꦸꦁꦢꦸꦩꦢꦶ꧉”

Semoga semua makhluk berbahagia, mugi rahayu sagung dumadi.

Karena situs ini terletak di area terbuka dan di tengah perkampungan, maka artefak yang ditemukan bersama sumur jobong dipajang dalam kotak kaca di pinggir jalan menempel di dinding rumah warga. Dalam kotak kaca tersebut kita bisa melihat fragmen tulang dan batu bata yang diduga merupakan peninggalan era Majapahit dengan ciri khas arsitekturnya berupa bata merah terakota. Berbeda dengan sumur jobong (Gumuling) di Plered, Yogyakarta yang struktur aslinya sudah rusak dan diganti dengan yang baru. Sumur jobong di Pandean masih asli meskipun ada retak di beberapa tempat namun sudah diperbaiki pada tanggal 24 Maret 2023 yang lalu.

Baca Juga  Mostbet AZ-90 kazino azerbaycan Ən yaxşı bukmeyker rəsmi sayt
ꦄꦫꦺꦪꦩꦸꦱꦶꦪꦸꦩ꧀ꦱꦸꦩꦸꦂꦗꦺꦴꦧꦺꦴꦁ
Area museum sumur jobong. Foto: ita/Begandring. 

Perjalanan diakhiri dengan menikmati kopi di ꧌ꦭꦺꦴꦗꦶꦧꦼꦱꦂ꧍ Lodji besar Peneleh yang terletak kurang lebih 200 meter dari area sumur. Kafe yang menempati bangunan era kolonial ini menyediakan berbagai macam minuman panas dan dingin. Selain itu, kafe ini juga memajang benda purbakala seperti potongan batu bata merah yang diduga era Majapahit dan benda kuno lainnya.

Satu hal yang mencuri perhatian saya ketika menjejakkan langkah ke teras kafe Adalah tulisan beraksara Jawa ꧌ꦱꦶꦁꦔꦼꦩꦺꦏ꧀ꦩꦠꦶ꧍ yang terpasang menempel di dinding di sebelah kanan pintu masuk. Hal ini membuktikan bahwa aksara Jawa adalah aksara yang dipakai dalam keseharian masyarakat ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya tempo dulu.

Sebagai informasi tambahan, kafe ini adalah markas besar komunitas ꧌ꦧꦼꦒꦤ꧀ꦢꦿꦶꦁꦯꦸꦫꦨꦪ꧍Begandring Soerabaia, yaitu komunitas yang peduli dengan isu sejarah dan budaya kota ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya. Jika Anda beruntung, Anda bisa menikmati kopi sembari mengikuti diskusi yang sering diadakan di kafe ini dengan narasumber kompeten di bidangnya.

Tertarik mengunjungi ꧌ꦱꦸꦩꦸꦂꦗꦺꦴꦧꦺꦴꦁ ꦌꦫꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀꧍ Sumur Jobong era Majapahit dan ꧌ꦭꦺꦴꦗꦶꦧꦼꦱꦂ꧍ Lodji Besar? Anda bisa datang langsung ke kawasan Peneleh. (ita)

 

 

 

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x