Konstelasi 5 Bintang PTN di Surabaya Bagai Rasi Cassiopeia.

Begandring.com – Ada 88 konstalasi (rasi) bintang di langit. Salah satunya adalah konstalasi yang berisi 5 bintang terang yang dinamakan Cassiopeia.

Cassiopeia adalah konstelasi bintang yang letaknya di langit utara, yang juga disebut sebagai ratu dari Puteri Andromeda. Konstalasi ini mudah dikenali karena bentuknya yang seperti huruf ‘W’. Bentuk “W” tersusun dari 5 bintang yang bersinar sangat terang.

Konstalasi bintang lima Cassiopeia yang terang di langit utara.

Menurut cerita kuno, Cassiopeia adalah istri Raja Cepheus dari Aethiopia dan ibu dari Putri Andromeda. Cepheus dan Cassiopeia ditempatkan bersebelahan di antara bintang-bintang, bersama dengan Andromeda.

Konon dari cerita kuno, Cassiopeia ditempatkan di langit sebagai hukuman setelah ia membuat marah Poseidon dengan pernyataannya bahwa putrinya Andromeda lebih cantik dari Nereids atau dengan kata lain ia ingin mengatakan bahwa dirinya cantik.

Atas pernyataan itu, Cassiopeia dipaksa (dihukum) untuk berputar di sekitar kutub langit utara di singgasananya. Selama di sana ia menghabiskan separuh waktunya untuk berpegangan padanya (Poseidon) agar dia tidak jatuh dan pada akhirnya Poseidon memutuskan bahwa Andromeda harus diikat juga di batu agar dimangsa monster Cetus.

Andromeda kemudian diselamatkan oleh pahlawan Perseus. Sedangkan Cassiopeia ditinggalkan di singgasananya di langit utara.

Karenanya konstalasi lima bintang itu bagai seorang ratu yang duduk di singgasana dan gemerlapnya menerangai sekitarnya dan mudah dipandang dari bumi karena sinar terangnya.

Konstalasi lima bintang terang ini sebagai perumpamaan lima bintang Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Surabaya, yang jika mereka berkonstalasi akan memaknai sejarah Surabaya.

Sejarah kota Surabaya dikenal berlapis lapis, utamanya sejarah yang tertoreh di kawasan Peneleh. Bahwa setelah penemuan sumur kuno dari era Majapahit pada 2018, kehadirannya menambahkan dan membuktikan narasi sejarah tentang kekunoan kawasan Peneleh.

Baca Juga  Kongres Bahasa Jawa (KBJ) VII Harus Hasilkan Keputusan Nyata, Tidak Normatif

Berdasarkan deskripsi dan inskripsi kuno dari prasasti Canggu (Trowulan I) 1358 M, bahwa dituliskan adanya desa di tepian sungai (naditira pradeca) Curabhaya, yang letaknya di utara Bkul (Bungkul). Curabhaya (Surabaya) berada di hilir sungai.

Satu satunya penemuan arkeologi di Surabaya yang terdekat dengan sungai yaitu sumur Jobong, yang terbuat dari terakota yang umum ditemukan di kawasan Trowulan (kawasan ibukota Majapahit). Sumur Jobong Surabaya ini ditemukan di kampung Pandean, kelurahan Peneleh, Surabaya.

Sehingga, lapisan sejarah Surabaya di kawasan Peneleh dapat disimak mulai ada sejak era kerajaan (klasik), kemudian era kolonial, era pra kemerdekaan dan era kemerdekaan.

Kawasan bersejarah Peneleh di tahun 1905. Foto: KITLV

Di kawasan Peneleh inilah peran 5 bintang PTN di Surabaya dapat membantu memancarkan sejarah Surabaya. Sejarah Surabaya di lingkungan kelurahan Peneleh bisa semakin berpijar menerangi sejarah Surabaya.

Lantas apa kaitannya 5 bintang PTN, yang terdiri dari Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya., dengan sejarah Surabaya di Peneleh?

Lima PTN ini bisa berkontribusi secara akademik untuk menguatkan sejarah Surabaya di Peneleh. Misalnya ITS dapat berkontribusi secara geologi untuk melihat keberadaan kawasan Peneleh yang berada di Delta Sungai (percabangan Kalimas dan Kali Pegirian). Secara alami kawasan Peneleh telah terbentuk seiring dengan aliran sungai Kali Surabaya.

Selain itu, Peneleh menyimpan keragaman gaya arsitektur, yang layak menjadi bahan kajian dan penelitian.

Kemudian Uinsa dapat berkontribusi untuk mengkaji akan keberadaan sejarah perkembangan Islam di kawasan ini. Atribut atribut Islam di kawasan ini tertandai oleh keberadaan Masjid Jami Peneleh, yang didirikan oleh Raden Rahmad (Sunan Ampel) serta makam makam kuno dengan inkripsi Arab Pegon.

Baca Juga  Surabaya Di Antara Urban Development dan Heritage Management

Berikutnya adalah Unair Surabaya, yang berkapasitas mengurai dari sektor kebudayaan yang ada seiring dengan dinamika peradaban manusia di kawasan ini. Kebudayaan di kawasan ini bisa diperinci yang bersifat tangible (kebendaan) dan intangible (tak benda).

Masih ada lagi. Unesa Surabaya yang dapat berkontribusi melihat dan mengkaji dari sisi sejarah yang dikenal bahwa Peneleh terdiri dari lapisan sejarah (era klasik, kolonial, pra kemerdekaan dan kemerdekaan). Selain itu Unesa juga bisa berperan untuk melihat potensi ekonomi yang bisa dikembangkan berdasarkan nilai nilai kesejarahan kawasan. Sehingga akan muncul geliat ekonomi kreatif sebagai wujud pengembangan kawasan wisata yang berbasis sejarah.

Terakhir adalah Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya yang bisa mengurai sejarah kebangsaan karena di kawasan Peneleh dimana di sana terdapat Rumah Lahir Bung Karno (RLBK) dan Rumah HOS Tjokroaminoto yang dikenal sebagai dapur kebangsaan.

Nah, ketika lima bintang Perguruan Tinggi Negeri ini berkonstalasi dalam penguatan sejarah kota Surabaya yang ada di lingkungan Kelurahan Peneleh, maka identitas atau DNA Surabaya ini akan semakin terang. Siapakah kita ini?

Melihat pentingnya mengenal DNA Surabaya sebagai identitas kota Surabaya, tokoh kebudayaan kota Surabaya, A Hermas Thony, yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, berharap kelima PTN di Surabaya ini bisa saling bekerjasama (berkonstalasi) dalam upaya penguatan sejarah Surabaya sesuai dengan kapasitasnya masing masing.

A Hermas Thony, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya di rungan kerjanya. Foto: Begandring.

“Saya kira ini bagian dari wujud gotong royong masyarakat Surabaya dalam upaya bersama memperkuat jatidiri kota Surabaya di tengah percaturan nasional dan bahkan dunia internasional”, kata A. Hermas Thony yang ditemui di ruang kerjanya.

Baca Juga  Gandeng Penerbit, Begandring Soerabaia Siap Produksi Buku-Buku Sejarah

Karenanya Thony ingin mengajak mereka berdiskusi dan berbagi pandangan tentang pembangunan kota yang berangkat dari nilai nilai sejarah, budaya dan kebangsaan.

“Semua nilai nilai itu ada di kawasan Peneleh, yang tentunya akan menjadi contoh untuk pengembangan kawasan lainnya di Surabaya”, tambah Thony.

Di kawasan Peneleh inilah konstalasi 5 bintang PTN di Surabaya bisa terajut, yang kemudian bisa memancarkan sinar terangnya bagai konstalasi Cassiopeia di langit utara. (nng)

 

 

 

 

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x